Jumat, 19 September 2008

PRESIDEN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Dalam kampanye kepresidenan Korea Selatan waktu itu, Capres Kim Dae Jung mengatakan: “beri kesempatan saya jadi Presiden Korea Selatan, dan krisis ekonomi akan saya pulihkan dalam waktu dua tahun”. Presiden Kim Dae Jung memang menepati janji politiknya. Bahkan, seluruh indikator ekonomi makro Korea Selatan dapat disehatkan dalam waktu 18 bulan sejak pelantikan Presiden.
Fenomena Presiden Kim Dae Jung ini menarik minat seorang peneliti perilaku kepemimpinan dari Chung Ahn University, Prof. Kim Dong Hwan. Melalui kajian atas hampir 1000 halaman pidato kepresidenan, disimpulkan bahwa Presiden Kim Dae Jung adalah salah seorang model pemimpin pembelajaran (a learning leader). Ciri pemimpin pembelajaran antara lain, (1) berpikir serba sistem, (2) memahami kompleksitas dinamis masyarakat, dan (3) suka dialog.
Gambaran pemimpin pembelajaran ini ditunjukkan oleh kecerdasan Presiden Kim dalam memahami krisis ekonomi Korea Selatan. Presiden Kim berpendapat bahwa krisis ekonomi Korea Selatan ditandai oleh struktur sistemik yang bersifat penstabilan (balancing). Krisis ekonomi Korea Selatan adalah mirip sistem tubuh manusia. Tidak sehatnya satu atau beberapa bagian dari sistem, ditandai oleh tidak sehatnya satu atau beberapa indikator kesehatan sistem. Satu-satunya cara untuk menyehatkan sistem adalah dengan cara menyehatkan seluruh komponen sistem, terutama yang memiliki daya ungkit tertinggi (highest leverage).

Itulah sebabnya mengapa Presiden Kim memilih kebijakan reformasi institusi politik dan institusi finansial guna memulihkan krisis ekonomi Korea Selatan. Dengan jalan ini, Presiden Kim telah bertindak sebagai perancang kebijakan, pelayan dan sekaligus guru masyarakat Korea Selatan untuk menempuh jalan pemulihan krisis.
Kualifikasi pemimpin pembelajaran juga ditunjukkan oleh Perdana Menteri Malaysia Dr.Mahatir Mohammad. Melalui kajian atas materi pidatonya sepanjang kurun waktu tujuh bulan, Prof.Kim Dong Hwan dan V.K. Rai, mendeteksi kecerdasan PM Mahatir Mohammad dalam memahami krisis ekonomi Malaysia. Tidak seperti Presiden Kim, PM Mahatir Mohammad berpendapat bahwa krisis Malaysia ditandai oleh struktur sistemik yang bersifat percepatan negatif (negative reinforcing). Menururt PM Mahatir Mohammad, sesungguhnya seluruh bagian sistem ekonomi politik Malaysia tidak ada yang sakit. Krisis justru disebabkan oleh kegiatan spekulatif orang asing yang menggerogoti kekayaan bangsa Malaysia, melalui spekulasi mata uang. Itulah sebabnya mengapa PM Mahatir Mohammad memilih jalan pemulihan melalui penetapan nilai tukar tetap, dan melarang perdagangan ringgit. Ini adalah cara untuk memotong lingkaran krisis Malaysia yang bersifat lingkaran setan (vicious cycle).

Revolusi Mental
Jelas sekali bahwa kendatipun sama-sama krisis ekonomi dan moneter, karakteristik sistemiknya sangatlah berbeda, dan karena itu kebijakan pemulihannyapun sangat berbeda. Kemampuan Pemimpin mendeteksi sifat krisis di masing-masing negara menjadi faktor sangat penting bagi keberhasilan pemulihan krisis. Hal ini sejalan dengan peringatan Peter Drucker bahwa:”the greates danger in times of turbulence is not the turbulence …. It is to act with yesterdays logic”. Yang paling berbahaya pada saat krisis bukanlah krisis itu sendiri, melainkan justru adalah tindakan kita yang dilandasi oleh pikiran-pikiran kita yang sudah ketinggalan jaman.
Itulah sebabnya setiap negara bangsa memerlukan pemimpin pembelajaran. Yakni, pemimpin yang telah mengalami revolusi mental, atau shift of paradigm. Pemimpin yang bukan hanya membawa dirinya menjadi pembelajar sepanjang hayat, tetapi juga membangun seluruh organisasi bangsa menjadi organisasi pembejaran (learning organization), dan sekaligus mengajak bangsanya menjadi bangsa pembelajaran (learning nation).

Tidak ada komentar: